Ayam Bakar Puspo

Pak Puspo, begitu orang biasa memangggil. Nama lengkapnya Puspo Wardoyo kelahiran Solo Jawa Tengah.
Orang yang berasal dari keluarga pas-pasan. Ayahnya hanya seorang penjual ayam. Tapi orang tuanya sempat menyekolahkan Puspo sampai perguruan tinggi hingga dia sempat menjadi guru di sebuah SMA di kota Muntilan Magelang.
Merasa gaji menjadi guru tidak cukup, Puspo mencoba hijrah ke kota Medan, Sumatera Utara. Itu terjadi ketika salah seorang temannya menghubungi via telepon yang memberi gambaran bahwa Medan sangat kondusif untuk jualan makanan.
Dari saran temannya itulah Puspo akhirnya pegi ke Medan. Dia mencoba jualan ayam bakar. Akan tetapi profesi utamanya sebagai guru mengajar di Bagan Siapi-api tetap dia tekuni dan ayam bakar hanya sebagai sambilan.
Pantang malu dan pantang menyerah, begitu tekad Puspo. Meskipun seorang pegawai, Puspo jualan ayam bakar di sore harinya.  Setiap hari ayam bakar Puspo laku beberapa ekor saja. Belum kelihatan keuntungan yang dapat diraih dari jualan ayamnya.   Meskipun begitu setidaknya Puspo sudah mempunyai satu dua orang pegawai yang selalu menyiapkan segala peralatan dan membantu Puspo dalam berjualan. Bagaimanapun keadaanya Puspo tetap menjiwai  pekerjaanya. Suatu saat Puspo mempunyai uang Rp.700 ribu untuk menambah modal jualan ayam bakarnya. Tidak disangka-sangka uang yang sebenarnya akan dipakai untuk bejualan hari itu diminta pinjam pegawainya Rp. 300 ribu untuk melunasi salah satu anggota keluarganya yang sedang dililit hutang. Puspo tetap mengiyakan permintaannya. Pikirnya modal tetap Rp.700 ribu, cuma yang Rp.300 ribu masih ditunda karena untuk menolong orang lain. "Pasti akan ada gantinya yang lebih baik" Begitu pikirnya.
Rupanya keluarga yang meminjam uang lewat pegawainya kebetulan adalah seorang wartawan. Merasa ditolong, sang wartawan dengan ikhlas mengekspos jualan ayam bakarnya Puspo. Pada edisi tertentu terpampang si suatu koran harian Medan "Puspo, Sang sarjana yang jualan ayam bakar".
Puspo tidak tahu dan tidak berkeinginan namanya terpampang di koran, uang Rp. 300 ribu juga bukan uang untuk porsi iklan ayam bakarnya, uang itu sebagai bagian membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Tapi apa yang terjadi? semenjak saat itu ayam bakar Puspo mulai terkenal. Dahulu sangat sedikit yang mampir ke warungnya. Kini semakin banyak orang yang mencicipi ayam bakarnya. Begitulah, ayam bakar Puspo mulai dikenal di seantero Medan.
Sikap baik Puspo berbuah manis. Dagangannya laku seperti kacang goreng. Ayam goreng Puspo. Wong Solo merajai ayam bakar Nusantara. Usahanya yang dahulu dimulai dengan satu sampai dengan dua orang pegawai kini sudah menjadi pengelolaan franchise. Basis usaha franchisenya yang di Medan kini sudah merambah kota-kota besar Jakarta, Semarang, Solo dan kota-kota besar lain di Indonesia. Puspo pernah memperoleh penghargaan terbaik di bisnis franchise di masa pemerintahan Presiden Megawati dahulu. Subhanalloh....
Pertolongongan kita terhadap orang lain adalah jalan yang karenanya Alloh SWT akan memberi pertolongan kepada kita. seperti yang disebutkan dalam hadist "Alloh akan menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya." (Muslim 4/2074)

0 komentar:

Post a Comment

support