Onta Abdullah

"Kamu sekali-kali tidak mendapatkan kebaikan yang sempurna, sebelum kamu memberikan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu berikan, maka sesungguhnya Alloh SWT mengetahuinya" (QS.Ali Imran : 92)

Abdullah adalah seorang ayah yang mempunyai 3 orang anak. Mereka hidup bahagia dan mempunyai beberapa onta yang selama ini bisa dijadikan sumber penghidupan sehari-hari. Suatu hari diketahui bahwa ada tetangganya yang lebih membutuhkan uluran tangannya karena keluarga tersebut tidak mempunyai onta seperti keluarga mereka yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Abdullah tersentuh hatinya apabila melihat ketulusan dan kesholehan tetangganya itu. Akhirnya Abdullah memberikan onta terbaiknya tersebut kepada tetengganya itu karena dia teringat pesan dalam Al Qur'an bahwa memberi hendaklah yang paling bagus dan paling disayangi. Onta yang diberikan yang benar-benar paling bagus dan harganya yang paling mahal.  Dan mulai saat itu kehidupannya tetanganya dapat terbantu karena onta yang diberikan Abdullah benar-benar sangat melimpah susunya sehingga anak-anaknyapun dapat terpenuhi kebutuhannya.
Pada suatu waktu ketika musim panas tiba dan semua orang berlomba-lomba mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan ternaknya. Mereka mencari air di goa-goa atau di tempat-tempat yang curam dan sulit dijangkau dengan cara biasa, karena sumber air biasanya memang keluar dari tempat-tempat tertentu saja.
Dari kondisi yang seperti itu membuat keluarga Abdullah dan 3 anaknya berangkat mencari sumber air. Mereka berjalan menyusuri padang pasir dan mengamati tempat-tempat  yang dimungkinkan di sana ada tersimpan air.  Akhirnya mereka menemukan tempat yang diyakini bahwa ada ada sumber air akan tetapi jauh di bawah goa. Maka turunlah Abdullah ke dalam goa yang gelap gulita dan jalannya berliku-liku.  Sementara itu sang anak memanggil-manggil ayahnya. Mulanya masih terdengar jawaban ayahnya saat dipanggil tapi lama kelamaan tidak ada jawaban lagi. Anak-anaknya masih tetap menunggu sampai lewat tengah malam dan terus memanggil manggilnya, tetapi tidak terdengar lagi jawaban. 
Menjelang pagi hari, ketiga anaknya mulai menduga-duga jangan-jangan ayahnya telah meninggal dunia dan dimangsa binatang goa. Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah dengan keyakinan bahwa sang ayah telah meninggal dunia.
Tiga hari kemudian ketiga anaknya mulai menghitung-hitung harta warian peninggalan ayahnya. Akhirnya mereka jadi teringat kepada onta yang pernah diberikan ayahnya kepada teangganya itu. Dia merasa bahwa onta terbaik yang telah diberikan ayahnya kepada tetanganya dapat dijadikan andalan untuk sumber susunya.
Akhirnya mereka sepakat akan meminta kembali onta tersebut dan menggantinya dengan anak onta yang harganya paling murah. Benar, mereka mendatangi tetangganya itu dan mengambil onta yang banyak susunya pemberian dari ayahnya dan ditukar dengan anak onta yang harganya murah dan susunya sedikit. 
Kepada anak-anaknya itu, tetangga itu bertanya : "Mengapa pemberian ayahmu kamu minta kembali ?"
 "Itu adalah hak kami, kami sebenarnya tidak setuju."Anak-anak itu menjawab :
"Kami sangat menghormati orang tua saya" begitu anak-anaknya menambahkan.
 "Lalu sekarang ayah kamu dimana? " Tanya tetangganya itu.
Anak-anak itu mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia pada saat bersama-sama mengambil air di goa. Mendengar cerita anak-anaknya itu akhirnya tetangga yang pernah diberi onta itu meminta ditunjukan tempat dimana ayahnya hilang.  Maka ditunjukannyalah tempat dimana arah tempat dan tanda-tanda ayah mereka hilang. Kemudian tetangga itu berangkat sendirian tanpa ditemani anak-anak itu.
Setelah ditemukan tempatnya sesuai dengan tanda dan arah yang ditunjukan anak-anak itu, tetangga Abdullah itu turun dan masuk melewati lorong-lorong goa yang jauh berliku-liku. Dengan membawa obor api, tetangga itu menemukan Abdullah dalam keadaan buta matanya karena terkena benturan batu. Kemudian Adullah dipapah keluar dari goa dan selamat sampai di atas. Tetangga itu bertanya "Bagaimana Anda bisa bertahan hidup selama 2 minggu dalam goa yang gelap gulita dan tidak ada makanan sama sekali ?".
Abdullah menjawab "Setiap kali saya lapar, yaitu tiga kali dalam sehari, tangan saya meraba-raba ke sekeliling tempat di mana saya duduk, saya mendapatkan genangan air lalu saya minum dan ...ternyata adalah air susu segar seperti baru saja diperah, itu mungkin yang membuat saya bugar dan sehat. Saya tidak tahu dari mana datangnya susu itu karena tempat di mana saya duduk adalah kering dan bebatuan. Tetapi aneh, sejak tiga hari yang lalu saya tidak lagi mendapatkan susu itu, saya hanya mendapatkan air. Karena hanya minum air, maka badan saya menjadi lemas dan tidak bertenaga lagi."
Tetangga itupun menangkap hikmah penting dari apa yang telah diceritakan oleh Abdullah. Maka diapun akhirnya menceritakan apa yang telah dirasakan dan terjadi dengan kelakuan anak-anak Abdullah. "Bahwa onta yang diberikan Bapak waktu itu benar-benar menghasilkan susu yang luar biasa banyaknya dan bermanfaat bagi banyak keluarga. Karena itulah Alloh SWT mengirim susu untuk Bapak. Tetapi sejak tiga hari yang lalu onta yang diberikan Bapak itu telah diambil kembali oleh anak-anak Bapak dan diganti dengan anak onta, mungkin itulah, Bapak tidak lagi menikmati susu dalam goa."
Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan menuju desa terdekat untuk menyembuhkan mata Abdullah yang bengkak menutup kelopak matanya dan baru sore harinya pulang ke rumah. Sampai di rumah, Abdullah bertanya kepada anak-anaknya " Mengapa kamu semua tidak mencari ayah, kamu menganggap ayahmu sudah mati, tapi justru tetangga kita yang mencari dan menolong Ayah .?" Mereka bertigapun menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Abdullah memaafkan kesalahan ketiga anaknya itu, tetapi Abdulllah telah berketetapan hati bahwa hartanya yang setengah akan diberikan kepada tetangganya yang hatinya lebih baik dari pada anaknya sendiri dan sisa yang setengah lagi diberikan kepada ke tiga anak-anaknya.

Read more

Saya Harus Membuang Air Susu Saya Bu......

Kisah ini didapatkan dari Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita yang sudah dinyatakan oleh Dokter terkena kanker darah, kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluannya, dia mendatangkan pembantu dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama.
Satu minggu setelah bekerja, Majikan merasa pekerjaannya dianggap bagus. Majikan wanita selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu si Majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Pembantunya ini sering sekali ke kamar mandi dan berdiam cukup lama. Dengan tutur kata yang lemah lembut si Majikan bertanya." Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi..?" Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu.  Si Majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Pembantunya itupun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah dia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. "Saya harus membuang air susu saya Bu, kalau tidak dibuang dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusu oleh anak saya. " Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi.
"Subhanalloh, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda," Kata majikan. Ternyata Majikannya tidak seburuk seperti yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan memberikan gajinya secara penuh selama 2 tahun sesuai dengan akad kontraknya dan memberikannya tiket pulang.
"Kamu pulanglah dulu, uang sudah saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu, kamu susui anakmu secra penuh selama 2 tahun dan jika kamu igin kembali bekerja kamu mengubungi telepon ini sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu.". "Subhanalloh, apa Ibu tidak apa-apa saya tinggal..?" Kenangnya dalam hati. Si Majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala bahwa apa yang kamu tinggal lebih berharga dari pada mengurus saya.
Setelah pembantu itu pulang, majikan mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan.
Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia. Sebulan kemudian dia baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi..? Dokter yang menangani awal tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya. Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedasyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa..???.
Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenanrnya yang telah dilakukan oleh pasien. Wanita itupun menjawab,, " Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, mungkin sedekah yang telah saya lakukan ke pembantu saya telah membantuku sembuh, nyatanya setelah saya menolong hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup, saya mempunyai pembantu yang sedang menyusui anaknya tapi susu itu tidak dapat disalurkan dan harus dibuang di kamar mandi, Saya menangis apabila mengingat akan keadaannya, akhirnya pembantu itu saya suruh pulang agar bisa menyalurkan air sususnya dan dia sehat dan anaknya juga bisa sehat. mungkin dengan itu akhirnya sakit saya sembuh Dokter .,," Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa diagnosa dan sakit apapun bisa sembuh karena Alloh SWT memang menghendakinya, 'Obatilah orang yang sakit dengan sedekah..............."
Read more

Dia adalah Suamiku 15 tahun yang Lalu

Cerita ini cukup menyentuh hati, dimulai dari kepelitan dan kebakhilan seseorang yang berujung kepada kefakiran orang itu. 
Cerita sepasang suami istri yang sedang menikmati hidup baru malam pengantin di rumah mereka sendiri. 
Ketika mereka berdua sedang asyik makan malam, tiba-tiba pintu diketuk seseorang yang tampaknya benera-benar meminta pertolongan. Orang itu dalam keadaan lapar, ingin minta makan atau paling tidak minta minum.
Si Suami berkata dari dalam rumah," Siapa sih malam-malam mengganggu orang yang mau istirahat?" Dia nampak kesal dan marah. Istrinya bangkit dan membuka pintu. Dari balik pintu istrinya mendengar seseorang sedang minta makan. Kemudian dia mendekati suaminya dan berkata," Bang, di luar ada seseorang sedang meminta makan." Suaminya bangkit dan keluar sambil marah-marah. Dipukulnya peminta-minta itu sambil diumpat habis-habisan dan berkata."Menganggu orang yang lagi menikmati malam pengantin, nggak tahu malu, masih muda minta-minta, malam-malam begini lagi. Pergi kamu, kalau tidak segera pergi akan saya hajar kamu !!."
Lapar yang menghinggapi orang itu mengalahkan rasa sakit hatinya.  Dengan ikhlas dia pergi meninggalkan rumah kedua mempelai baru itu. Sementara itu, sang Suami entah memang sedang kerasukan setan atau kemasukan Jin tidaklah jelas, dia semakin menjadi-jadi marahnya dan lupa diri. Malam itu juga dia pergi meninggalkan istrinya dan pergi entah kemana tidak jelas yang dituju.
Lima belas tahun sudah lamanya si Istri tidak pernah tahu keberadaan si Suami yang pergi tanpa jejak. Istri dengan sabar menanti kedatangannya, tetapi si Suami tidak pernah ada beritanya. 
Suatu saat si Sitri bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatinya. Begitu juga dengan hati pemuda itu, dia tertarik dengan paras dan kecantikan serta tindak tanduknya yang cenderung sopan dan lemah lembut. Akhirnya hubungan mereka direstui oleh orang tua si Janda tersebut dan berkelanjutan dengan pernikahan.
Di malam pertama mereka, pada saat mereka berdua makan malam diselingi canda tawa, sesekali bunyi rengekan manja dari pengantin perempuan. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya suara dari luar, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka. Sang Suami berkata kepada istrinya. "Coba kamu lihat siapa dan apa maksudnya Bu.?". Sang istri berjalan mendekati pintu. Dari balik pintu dia memandangi orang itu dan bertanya kemudian kembali ke arah suaminya dan berkata. "Dia adalah orang yang meminta makan." Maka dengan segera Sang Suami mengangkat makanan yang baru saja mereka cicipi itu dan diserahkan kepada istrinya. ."Berikan ini semua kepada Dia, biarkan dia makan sampai kenyang dan kita makan yang ada ini saja." Istrinyapun mengangkat makanan itu dan menyerahkan kepada orang yang berada di liuar rumah.
Sesudah itu sang Istri kembali masuk ke dalam rumah. tetapi kali ini terlihat wajahnya sayu, Dia malahan menangis meneteskan air mata. Sang Suami kebingungan dan berkata."Kepana kamu menangis? apakah makanan ini tidak cukup buat kita berdua?: biarkan saja orang itu bahagia Bu, atau jangan-jangan orang itu malah menghina kamu?"  Dengan linangan air mata, sang Istri selalu menjawab "tidak". dalam semua pertanyaan suaminya. "Lalu kenapa kamu menangis..?" tanya Suaminya lagi. Akhirnya sang Istri menjawab.."Laki-laki yang sekarang sedang makan di sepan rumah kita ini, dia adalah suamiku 15 tahun yang lalu. Saat itu kami sedang menikmati malam pengantin dan makan bersama. tiba-tiba datang seseorang yang mengetuk pintu dan meminta makan. Suamiku merasa terganggu, Dia tidak memberinya makanan, Dia marah-marah dan memukulnya. Kemarahannya semakin menjadi-jadi hingga dia seperti kesetanan. Sesudah itu dia pergi dan tidak tahu beritanya dan sekarang ada di depan kita Bang...."
Mendengar cerita istrinya sang Suami mendadak berubah wajahnya, matanya berkaca-kaca mengeluarkan air mata dan sesekali terdengar isak tangis kecil. Istrinya yang akhrinya jadi bingung dan bertanya. " Apa yang membuat Abang menangis,,?" Suaminya kemudian menjawab. " Tahukah istriku, siapa orang yang dulu dipukul dan diusir Suamimu 15 tahun yang lalu..?" Istrinya balik bertanya.."Siapa dia Bang..""Dia adalah aku, maka janganlah kamu pelit dan bakhil terhadap orang miskin, sangat mungkin suatu saat kamu akan bisa mengalami nasib yang sama.." Suaminya akhirnya menjawab.. Istrinya kaget bukan kepalang. Dua suami yang berdiri dihadapannya, mantan Suami yang telah menjadi fakir dan matan peminta-minta yang telah menjadi suaminya sekarang. Subhanalloh..........
Read more

Emas si Bakhil

Ada kisah menarik dari seseorang yang tinggal di kota Ihsa, Saudi Arabia. Katanya,"Saya mempunyai seorang tetangga yang sangat bakhil, padahal umurnya telah tua dan rambutnya telah beruban. Ia hidup seorang diri. Tak bersama suami, anak, kerabat dekat ataupun teman. Kerjanya hanya mencari dan menumpuk harta."
Suatu hari ia tidak nampak seperti basanya, ia belum kelihatan pergi ke tokonya. Profesi orang ini adalah memproduksi sandal.
Selesai aku sholat Isya, aku menuju pintunya yang nyaris runtuh. Kalaulah angin berhembus kencang, tentu bakalan roboh. 
Kata temanku, "Maka kudorong pintu, dan aku masukan kaki kananku sembari aku ucapkan, hai kawan?: Laki-laki itu kaget , terperanjat. Segera ia himpun tangannya, dengan setengah marah ia berujar,"Apa maumu? ! Kujawab,"Maaf, aku datang hanya untuk membesukmu, sebab kulihat sudah tiga hari ini engkau tidak pergi ke tokomu." Namun si bakhil itu malah mendorongku sekuat-kuatnya. Akupun keluar, namun aku masih juga khawatir siapa tahu dia terkena sesuatu. 
Maka kujenguk ia kedua kalinya. Tak tahunya, ia tengah mengumpulkan dinar emas di depanya, yang kilaunya menyemburat karena cahaya lampu. Disampingnya ada sepiring minyak. Rupanya ia sedang menimang-nimang emasnya seraya berujar,"Wahai kekasihku, sungguh telah aku habiskan umurku karenamu, akankah aku mati dan meninggalkanmu untuk selainku?, tidak boleh terjadi yang demikian!! Aku sadar bahwa kematianku telah dekat dan penyakitku telah kritis. Kalau begitu, aku akan memendammu bersamaku." Kontan ia ambil dinar emasnya dan ia letakkan di minyak dan ia telan. Lantas ia merintih nyaris akan meninggal. Kemudian ia menarik napas dan ia angkat dinar emas lainnya, ia timang dinar emas lainnya yang seolah-olah teman akrab yang datang dari kejauhan, kemudian ia benamkan di minyak dan ia telan lagi dinar emas itu dengan mulutnya.
Kukatakan dalam hati."Demi Allhoh, harta si bakhil ini tak bakalan disantap selain oleh para penjagal ". "Baiklah, hari ini aku akan menjadi penjagal." Maka kututup pintu dan aku ikat pintu dengan kawat. Selama tiga hari hingga aku yakin bahwa si bakhil telah tewas."
Kemudian aku menemuinya dan ternyata jasad si bakhil telah membatu di kasurnya setelah menelan emasnya. Aku kabari orang-orang. Merekapun membopongnya, memandikan jasadnya dan mereka heran karena beratnya. Kata mereka,"Aneh, orang ini tinggal kulit dan tulang, namun mengapa sedemikian beratnya ! ". Rupanya mereka tidak tahu rahasia yang kuketahui. Kami kemudian menguburkannya.
Ketiak tengah malam, aku ambil kapak dan cangkul. Aku gali kuburan dan aku singkirkan tanah yang menimbunnya. Aku menoleh kana kiri hingga tak seorangpun melihatku. Aku singkirkan  bebatuan dari kuburan dan sampai terlihat putih warna kain kafan. Langsung saja aku ambil pisau dan aku sobek perutnya dengan bantuan cahaya rembulan. Aku ulurkan tanganku untuk mengambilnya. Nahas, tiba-tiba kurasakan panas bagaikan api menyala. Akupun berteriak sedang kulit tanganku mengelupas.
Kembali aku timbun kuburnya dengan bebatuan dan tanah. Aku pulang sambil berteriak yang belum pernah kurasakan kesakitan seperti itu. Aku tenggelamkan tanganku ke dalam air dingin. Beberapa tahun aku merasakan sengatan panas ini.
Beginilah akhirnya, kebakhilan yang telah memenjara dan mempebudak manusia. Harta yang seharusnya menusia pergunakan untuk membebaskan dirinya dari kepayahan duniawi dan ukhrawi justru berbalik menjadi bumerang yang mencelakakan dirinya. Ia begitu kepayahan mencari, memburu dan memelihara hartanya, Ia malahan berubah mejadi budak hartanya. Saya berlindung kepada Alloh dari kebakhilan sebagaimana difirmankan,"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yaitu orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya." (Al-Humazah [104] : 1-2)
Read more

Jangan Sepelekan Pengemis

Pagi itu sebuah SMS masuk ke handphone Bu Salamah, dari suami beliau yang bekerja di Malaysia. Isinya pemberitahuan bahwa uang kebutuhan keluarga bulan Nopember telah ditransfer. Kontan saja SMS itu membuat Bu Salamah sumringah. Maklum, sejak beberapa hari terakhir, beliau memang sangat menungu-nunggu kabar tersebut. Terlebih anak beliau tertua yang masih kuliah. Ditambah lagi kebutuhan dua anaknya yang lain. Seperti pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan semangat Bu Salamah bergegas menuju Bank BNI cabang Gresik.
Jarak rumah Bu Salamah sendiri dengan Bank BNI tidak bisa dikatakan dekat, kira-kira 1 jam perjalanan. Untuk itu, seperti bulan-bulan sebelumnya, beliau memanfaatkan satu-satunya Bus yang memiliki trayek ke pusat kota semen tersebut.
"Assalamu'alaikum...Bapak dan Ibu yang saya hormati...." Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian kumal di tengah-tengah penumpang bus yang sedang melaju. Dari pengakuannya, ia adalah anak yatim yang memerlukan sedikit uang untuk sekedar membeli nasi pengisi perut. Setelah menyampaikan "prolog" singkat, anak tersebut segera menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.
Ketika tiba di bangku Bu Salamah duduk, mata anak itu terbelalak senang dan bahagia. Didapatinya lembar uang lima ribuan yang disodorkan oleh Bu Salamah. "Alhamdulillah, suwun Bu...suwun Bu....," ucapnya pelan dan hatinya begitu gembira. Ia pun berlalu menuju deret terakhir bangku bus tersebut.
" Oalah Bu..Bu,,,anak seperti itu kok dipercaya? diberi uang lagi..., numan (ketagihan) lho...??!!" cetus seorang wanita muda yang duduk di sebelah Bu Salamah.
Bu Salamah terkaget dan menoleh ke sumber suara. "Tak apa Mbak,,kasihan  khan??? cuma lima ribu. Yah,,dari pada nanti dia mencuri atau......" Bu Salamah tak melanjutkan kata-katanya, dan segera mengucap "Astaghfirullah.."
" Saya malas Bu, ngasih uang kepada anak-anak seperti itu. Mereka banyak bohongnya. Oh ya, Ibu mau kemana?."
"Ke Bank juga.."
"BNI?"
"Ya.."
"Berarti kita satu tujuan, Mbak."
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Bu Salamah dan Indah, wanita muda itu keluar dari Bank BNI. Mereka segera mencari angkot yang akan membawa mereka ke halte dimana bus biasa ngetem menunggu penumpang. Tanpa mereka sangka, seorang lelaki tegap bergelang akar bahar di tangan kanannya, dengan aroma menyengat minyak wangi Arab menepuk pundak mereka.  Dan, dengan ramah lelaki tersebut menawarkan tumpangan gratis sampai ke rumah.
Pada mulanya Bu Salamah menolak tawaran itu karena beliau mencium gelagat yang tidak beres. Tetapi karena Indah mendesaknya maka terpaksa beliaupun turut serta. Ya, Indah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh kata-kata manis lelaki tersebut.
Masuklah mereka berdua ke dalam mobil lelaki tersebut. Apa yang terjadi?  ternyata di dalam mobil sudah ada tiga lelaki lain. Mobil segera melaju. Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya mereka merayu Indah dan Bu Salamah.
"Sepertinya cincin dan kalung Mbak ini mahal ya? boleh saya lihat?.kata salah seorang dari mereka.
Dan, Indah pun meyerahkannya. Termasuk akhirnya Indah memberikan tas yang berisi uang yang baru saja diambilnya dari Bank BNI.
Para lelaki itu telah mampu memperdaya Indah, bagaiman dengan Bu Salamah? Ibu tiga anak ini seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan pengaruh mantra mereka sehingga merekapun akhirnya marah. 
Bu Salamah tidak sudi menyerahkan satu perhiasanpun apalagi tas berisi uang yang baru saja diambilnya itu. Akhirnya mereka menghentikan mobil tersebut dan memaksa kedua perempuan itu turun, kemudian mobil itupun tancap gas.
Sesaat setelah itu, sadarlah Indah kalau ternyata ia terkena gendam. Indah menangis sejadi-jadinya dan menyesali kebodohannya.  Bu Salamah kemudian menghiburnya, kemudian beliau langsung teringat akan kejadian tadi pagi. "Subhanalloh, jangan-jangan sedekah lima ribu kepada anak yatim itu yang mengundang perlindungan Alloh SWT atas diriku..?" ucapnya lirih.
Read more

Ayam Bakar Puspo

Pak Puspo, begitu orang biasa memangggil. Nama lengkapnya Puspo Wardoyo kelahiran Solo Jawa Tengah.
Orang yang berasal dari keluarga pas-pasan. Ayahnya hanya seorang penjual ayam. Tapi orang tuanya sempat menyekolahkan Puspo sampai perguruan tinggi hingga dia sempat menjadi guru di sebuah SMA di kota Muntilan Magelang.
Merasa gaji menjadi guru tidak cukup, Puspo mencoba hijrah ke kota Medan, Sumatera Utara. Itu terjadi ketika salah seorang temannya menghubungi via telepon yang memberi gambaran bahwa Medan sangat kondusif untuk jualan makanan.
Dari saran temannya itulah Puspo akhirnya pegi ke Medan. Dia mencoba jualan ayam bakar. Akan tetapi profesi utamanya sebagai guru mengajar di Bagan Siapi-api tetap dia tekuni dan ayam bakar hanya sebagai sambilan.
Pantang malu dan pantang menyerah, begitu tekad Puspo. Meskipun seorang pegawai, Puspo jualan ayam bakar di sore harinya.  Setiap hari ayam bakar Puspo laku beberapa ekor saja. Belum kelihatan keuntungan yang dapat diraih dari jualan ayamnya.   Meskipun begitu setidaknya Puspo sudah mempunyai satu dua orang pegawai yang selalu menyiapkan segala peralatan dan membantu Puspo dalam berjualan. Bagaimanapun keadaanya Puspo tetap menjiwai  pekerjaanya. Suatu saat Puspo mempunyai uang Rp.700 ribu untuk menambah modal jualan ayam bakarnya. Tidak disangka-sangka uang yang sebenarnya akan dipakai untuk bejualan hari itu diminta pinjam pegawainya Rp. 300 ribu untuk melunasi salah satu anggota keluarganya yang sedang dililit hutang. Puspo tetap mengiyakan permintaannya. Pikirnya modal tetap Rp.700 ribu, cuma yang Rp.300 ribu masih ditunda karena untuk menolong orang lain. "Pasti akan ada gantinya yang lebih baik" Begitu pikirnya.
Rupanya keluarga yang meminjam uang lewat pegawainya kebetulan adalah seorang wartawan. Merasa ditolong, sang wartawan dengan ikhlas mengekspos jualan ayam bakarnya Puspo. Pada edisi tertentu terpampang si suatu koran harian Medan "Puspo, Sang sarjana yang jualan ayam bakar".
Puspo tidak tahu dan tidak berkeinginan namanya terpampang di koran, uang Rp. 300 ribu juga bukan uang untuk porsi iklan ayam bakarnya, uang itu sebagai bagian membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Tapi apa yang terjadi? semenjak saat itu ayam bakar Puspo mulai terkenal. Dahulu sangat sedikit yang mampir ke warungnya. Kini semakin banyak orang yang mencicipi ayam bakarnya. Begitulah, ayam bakar Puspo mulai dikenal di seantero Medan.
Sikap baik Puspo berbuah manis. Dagangannya laku seperti kacang goreng. Ayam goreng Puspo. Wong Solo merajai ayam bakar Nusantara. Usahanya yang dahulu dimulai dengan satu sampai dengan dua orang pegawai kini sudah menjadi pengelolaan franchise. Basis usaha franchisenya yang di Medan kini sudah merambah kota-kota besar Jakarta, Semarang, Solo dan kota-kota besar lain di Indonesia. Puspo pernah memperoleh penghargaan terbaik di bisnis franchise di masa pemerintahan Presiden Megawati dahulu. Subhanalloh....
Pertolongongan kita terhadap orang lain adalah jalan yang karenanya Alloh SWT akan memberi pertolongan kepada kita. seperti yang disebutkan dalam hadist "Alloh akan menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya." (Muslim 4/2074)
Read more

Kisah qurban “YuTimah”

Namanya Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) atau yang terkenal dengan nama BLT yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya saja masih berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah juga bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.
Dulu setelah remaja Yu Timah pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung lagi.  Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung. Tentu hasilnya juga tak seberapa.
Tetapi Yu Timah bertahan.  Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi lagi-lagi seperti Yu Timah dahulu, setelah tamat SD, anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampungnya ada pesantren kecil.  Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di Bank Perkreditan Rakyat Syariah di mana saya ikut jadi pengurus.
Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
“Ooo, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
“Mau ambil berapa?”
tanya saya.
“Enam ratus ribu, Pak.”
“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
"Subhanalloh..."
saya terhenyak,  dengan spontan batin saya mensucikan Asma Alloh.. Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.
“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?”  Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Reff: RESONANSI – Republika, Ahmad Tohari
Read more