Jangan Sepelekan Pengemis

Pagi itu sebuah SMS masuk ke handphone Bu Salamah, dari suami beliau yang bekerja di Malaysia. Isinya pemberitahuan bahwa uang kebutuhan keluarga bulan Nopember telah ditransfer. Kontan saja SMS itu membuat Bu Salamah sumringah. Maklum, sejak beberapa hari terakhir, beliau memang sangat menungu-nunggu kabar tersebut. Terlebih anak beliau tertua yang masih kuliah. Ditambah lagi kebutuhan dua anaknya yang lain. Seperti pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan semangat Bu Salamah bergegas menuju Bank BNI cabang Gresik.
Jarak rumah Bu Salamah sendiri dengan Bank BNI tidak bisa dikatakan dekat, kira-kira 1 jam perjalanan. Untuk itu, seperti bulan-bulan sebelumnya, beliau memanfaatkan satu-satunya Bus yang memiliki trayek ke pusat kota semen tersebut.
"Assalamu'alaikum...Bapak dan Ibu yang saya hormati...." Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian kumal di tengah-tengah penumpang bus yang sedang melaju. Dari pengakuannya, ia adalah anak yatim yang memerlukan sedikit uang untuk sekedar membeli nasi pengisi perut. Setelah menyampaikan "prolog" singkat, anak tersebut segera menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.
Ketika tiba di bangku Bu Salamah duduk, mata anak itu terbelalak senang dan bahagia. Didapatinya lembar uang lima ribuan yang disodorkan oleh Bu Salamah. "Alhamdulillah, suwun Bu...suwun Bu....," ucapnya pelan dan hatinya begitu gembira. Ia pun berlalu menuju deret terakhir bangku bus tersebut.
" Oalah Bu..Bu,,,anak seperti itu kok dipercaya? diberi uang lagi..., numan (ketagihan) lho...??!!" cetus seorang wanita muda yang duduk di sebelah Bu Salamah.
Bu Salamah terkaget dan menoleh ke sumber suara. "Tak apa Mbak,,kasihan  khan??? cuma lima ribu. Yah,,dari pada nanti dia mencuri atau......" Bu Salamah tak melanjutkan kata-katanya, dan segera mengucap "Astaghfirullah.."
" Saya malas Bu, ngasih uang kepada anak-anak seperti itu. Mereka banyak bohongnya. Oh ya, Ibu mau kemana?."
"Ke Bank juga.."
"BNI?"
"Ya.."
"Berarti kita satu tujuan, Mbak."
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Bu Salamah dan Indah, wanita muda itu keluar dari Bank BNI. Mereka segera mencari angkot yang akan membawa mereka ke halte dimana bus biasa ngetem menunggu penumpang. Tanpa mereka sangka, seorang lelaki tegap bergelang akar bahar di tangan kanannya, dengan aroma menyengat minyak wangi Arab menepuk pundak mereka.  Dan, dengan ramah lelaki tersebut menawarkan tumpangan gratis sampai ke rumah.
Pada mulanya Bu Salamah menolak tawaran itu karena beliau mencium gelagat yang tidak beres. Tetapi karena Indah mendesaknya maka terpaksa beliaupun turut serta. Ya, Indah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh kata-kata manis lelaki tersebut.
Masuklah mereka berdua ke dalam mobil lelaki tersebut. Apa yang terjadi?  ternyata di dalam mobil sudah ada tiga lelaki lain. Mobil segera melaju. Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya mereka merayu Indah dan Bu Salamah.
"Sepertinya cincin dan kalung Mbak ini mahal ya? boleh saya lihat?.kata salah seorang dari mereka.
Dan, Indah pun meyerahkannya. Termasuk akhirnya Indah memberikan tas yang berisi uang yang baru saja diambilnya dari Bank BNI.
Para lelaki itu telah mampu memperdaya Indah, bagaiman dengan Bu Salamah? Ibu tiga anak ini seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan pengaruh mantra mereka sehingga merekapun akhirnya marah. 
Bu Salamah tidak sudi menyerahkan satu perhiasanpun apalagi tas berisi uang yang baru saja diambilnya itu. Akhirnya mereka menghentikan mobil tersebut dan memaksa kedua perempuan itu turun, kemudian mobil itupun tancap gas.
Sesaat setelah itu, sadarlah Indah kalau ternyata ia terkena gendam. Indah menangis sejadi-jadinya dan menyesali kebodohannya.  Bu Salamah kemudian menghiburnya, kemudian beliau langsung teringat akan kejadian tadi pagi. "Subhanalloh, jangan-jangan sedekah lima ribu kepada anak yatim itu yang mengundang perlindungan Alloh SWT atas diriku..?" ucapnya lirih.
Read more

Ayam Bakar Puspo

Pak Puspo, begitu orang biasa memangggil. Nama lengkapnya Puspo Wardoyo kelahiran Solo Jawa Tengah.
Orang yang berasal dari keluarga pas-pasan. Ayahnya hanya seorang penjual ayam. Tapi orang tuanya sempat menyekolahkan Puspo sampai perguruan tinggi hingga dia sempat menjadi guru di sebuah SMA di kota Muntilan Magelang.
Merasa gaji menjadi guru tidak cukup, Puspo mencoba hijrah ke kota Medan, Sumatera Utara. Itu terjadi ketika salah seorang temannya menghubungi via telepon yang memberi gambaran bahwa Medan sangat kondusif untuk jualan makanan.
Dari saran temannya itulah Puspo akhirnya pegi ke Medan. Dia mencoba jualan ayam bakar. Akan tetapi profesi utamanya sebagai guru mengajar di Bagan Siapi-api tetap dia tekuni dan ayam bakar hanya sebagai sambilan.
Pantang malu dan pantang menyerah, begitu tekad Puspo. Meskipun seorang pegawai, Puspo jualan ayam bakar di sore harinya.  Setiap hari ayam bakar Puspo laku beberapa ekor saja. Belum kelihatan keuntungan yang dapat diraih dari jualan ayamnya.   Meskipun begitu setidaknya Puspo sudah mempunyai satu dua orang pegawai yang selalu menyiapkan segala peralatan dan membantu Puspo dalam berjualan. Bagaimanapun keadaanya Puspo tetap menjiwai  pekerjaanya. Suatu saat Puspo mempunyai uang Rp.700 ribu untuk menambah modal jualan ayam bakarnya. Tidak disangka-sangka uang yang sebenarnya akan dipakai untuk bejualan hari itu diminta pinjam pegawainya Rp. 300 ribu untuk melunasi salah satu anggota keluarganya yang sedang dililit hutang. Puspo tetap mengiyakan permintaannya. Pikirnya modal tetap Rp.700 ribu, cuma yang Rp.300 ribu masih ditunda karena untuk menolong orang lain. "Pasti akan ada gantinya yang lebih baik" Begitu pikirnya.
Rupanya keluarga yang meminjam uang lewat pegawainya kebetulan adalah seorang wartawan. Merasa ditolong, sang wartawan dengan ikhlas mengekspos jualan ayam bakarnya Puspo. Pada edisi tertentu terpampang si suatu koran harian Medan "Puspo, Sang sarjana yang jualan ayam bakar".
Puspo tidak tahu dan tidak berkeinginan namanya terpampang di koran, uang Rp. 300 ribu juga bukan uang untuk porsi iklan ayam bakarnya, uang itu sebagai bagian membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Tapi apa yang terjadi? semenjak saat itu ayam bakar Puspo mulai terkenal. Dahulu sangat sedikit yang mampir ke warungnya. Kini semakin banyak orang yang mencicipi ayam bakarnya. Begitulah, ayam bakar Puspo mulai dikenal di seantero Medan.
Sikap baik Puspo berbuah manis. Dagangannya laku seperti kacang goreng. Ayam goreng Puspo. Wong Solo merajai ayam bakar Nusantara. Usahanya yang dahulu dimulai dengan satu sampai dengan dua orang pegawai kini sudah menjadi pengelolaan franchise. Basis usaha franchisenya yang di Medan kini sudah merambah kota-kota besar Jakarta, Semarang, Solo dan kota-kota besar lain di Indonesia. Puspo pernah memperoleh penghargaan terbaik di bisnis franchise di masa pemerintahan Presiden Megawati dahulu. Subhanalloh....
Pertolongongan kita terhadap orang lain adalah jalan yang karenanya Alloh SWT akan memberi pertolongan kepada kita. seperti yang disebutkan dalam hadist "Alloh akan menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya." (Muslim 4/2074)
Read more

Kisah qurban “YuTimah”

Namanya Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) atau yang terkenal dengan nama BLT yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.
Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya saja masih berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah juga bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.
Dulu setelah remaja Yu Timah pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung lagi.  Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung. Tentu hasilnya juga tak seberapa.
Tetapi Yu Timah bertahan.  Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi lagi-lagi seperti Yu Timah dahulu, setelah tamat SD, anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampungnya ada pesantren kecil.  Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di Bank Perkreditan Rakyat Syariah di mana saya ikut jadi pengurus.
Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
“Ooo, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”
“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
“Mau ambil berapa?”
tanya saya.
“Enam ratus ribu, Pak.”
“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
"Subhanalloh..."
saya terhenyak,  dengan spontan batin saya mensucikan Asma Alloh.. Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”
“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.
“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?”  Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.
Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Reff: RESONANSI – Republika, Ahmad Tohari
Read more

Sedekah Sepotong Roti

Suatu hari dikisahkan bahwa bangsa Israel sedang dilanda paceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit oula yang meninggal dunia akibat musibah kelaparan itu.Akan tetapi masih ada orang kaya yang tidak merasakan musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang mulia hatinya.
Suatu malan, gadis itu sedang makan dan tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Berilah aku aku sedekah semata-mata karena Alloh, meskipun hanya sepotong roti !"
Gadis itu segera beranjak untuk menghampiri si pengemis. Kemudian dia memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang jahat dan kikir pulang sehabis kerja. Lelaki tersebut mengetahui perbuatan anak gadisnya itu. Ia pun melotot dan memarahi anak gadisnya. Si pengemis segera pergi melihat hal itu.
"Bodoh ! Apakah kamu tahu bahwa banyak orang sedang kelaparan. Mereka sedang kesulitan makan sekarang. Enak saja kamu memberikan roti kepada pengemis !" Hardik ayahnya.
"Pengemis itu kesulitan mendapatkan makanan Ayah,! maka aku memberikan sepotong roti untuknya," jawab gadis itu.
"Apa ? Sepotong roti itu sangat berarti. Kamu keterlaluan !." bentak ayahnya. Lalu lelaki itu bergegas ke dapur. Di sana ia mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja, lelaki itu sudah sampai di hadapan anaknya, kemudian tangan kanan anaknya dipegangnya. Tiba-tiba pergelangan tangan kanan anak gadisnya itu dipotong dengan serta merta.
Tidak lama kemudian, lelaki itu jatuh bangkrut dan semakin menurun sehingga jatuh miskin. Hutangnya menumpuk dan membebani pikirannya. Akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun menyusul kemudian. Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian negeri Israel kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin menjadi makmur kembali. Akhirnya gadis itu terpaksa menjadi peminta minta demi menyambung hidupnya.
Suatu ketika, gadis itu berdiri di depan sebuah rumah yag sangat bagus. Dia berharap jika pemilik rumah kaya itu memberinya sepotong roti atau makanan apapun buat mengisi perutnya yang kosong.
Sesaat kemudian, keluarlah seorang wanita setengah baya yang menghampirinya. Tampaknya rumah besar itu hanya dihuni oleh seorang.
Wanita tersebut memandangi gadis itu dengan seksama. "Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja kecantikannya tidak nampak karena tertutup pakaian lusuh dan pengaruh penderitaan hidupnya," kata wanita itu dalam hati.
Tiba-tiba wanita itu teringat akan anak lelakinya yang meninggalkan dirinya selama ini. Anaknya pergi merantau ke negeri orang dan sudah lama tidak mengirim kabar. Kemudian gadis itu diambil anak angkat olehnya. Wanita itu mempunyai rencana untuk menjodohkan dengan anak lelakinya sepulangnya nanti.
Benar juga, suatu saat anak lelakinya pulang dari rantau dan ketika melihat paras kecantikan anak gadis yang telah diangkat oleh Ibunya itu diapun langsung terpesona. 
Jodoh tidak lari kemana, anak lelakinya langsung dijodohkan dengan gadis itu. Akhirnya mereka mengadakan pesta yang sangat besar dan meriah dengan mengundang kenalan yang rata-rata orang kaya dan pejabat negeri itu.
Pengantin lelaki duduk bersanding dengan pengantin wanita. Kemudian mereka makan bersama para undangan. Akan tetapi pengantin laki laki merasa kurang berkenan melihat ulah istrinya yang dianggap tidak sopan makan dengan tangan kiri.
"Jangan memalukan. Apakah engkau tidak bisa makan dengan tangan kanan? Para tamu ibuku adalah pejabat dan orang berpendidikan. Cobalah untuk menyesuaikan dengan mereka."
Pengantin wanita merasa serba sulit karena menyembunyikan cacatnya selam ini sehingga tidak seorangpun tahu apabila sebenarnya pergelangan tangan kanannya telah putus dipotong Ayahnya dahulu.
Namun suaminya terus mendesak. "Dimanakah tangan kananmu? demikian kata pengantin laki laki berulang kali."
Tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Keluarkan tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah dengan sepotong roti secara ikhlas karena Alloh. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula."
Pengantin wanita itu mengeluarkan tangan kanannya seperti ada dorongan dari dirinya karena suara dari luar tadi.
Apa yang terjadi? sebuah keajaiban, telapak tangan kanannya yang selama ini tidak ada lagi karena putus berubah menjadi seperti sedia kala.
Pengantin wanita itu heran atas keajaiban yang menimpa dirinya. Setelah itu dia tidak malu lagi makan bersama suaminya dan para undangan yang hadir. ......
Read more

Pengakuan Dul Said

Pak Dul demikian panggilan akrabnya. Dia bekerja sebagai seorang pedagang hasil pertanian seperti sayur, beras dan rempah-rempah. Pekerjaanya telah dijalaninya sejak masih muda hingga memiliki enam orang anak.
Di desa, dia terkenal sebagai pedagang yang sukses, karyawannya mencapai puluhan yang rata-rata laki-laki. Dia tergolong yang sukses sehingga mampu menyekolahkan dan mengirim anak pertamanya ke Pondok Pesantren Al Qur'an. Tetapi bisnis yang dijalaninya lama kelamaan mengalami banyak masalah. Kerugian mulai dirasakannya bahkan beberapa asetnya seperti tanah sudah harus dijual.
Pada masa-masa awal bisnisnya cukup berkembang. Hal itu ditandai dengan bertambahnya aset seperti sejumlah tanah dan aset lain yang sempat dibelinya dari hasil jerih payah usahanya. Dari perkembangan bisnisnya, akhirnya tidak sedikit juga tawaran pinjaman dana untuk pengembangan bisnisnya dari bank-bank pemerintah maupun bank swasta telah diterimanya.
Bisnisnya mulai merugi sehingga angsuran-angsuran yang harus disetorkan ke bank tidak lagi lancar. Satu persatu asetnya sudah mulai lepas untuk menutup hutang-hutang ke bank. Dan akhirnya Pak Dul Said harus menutup semua aktivitas dagangnya dan dia terpaksa menekuni pekerjaan yang ada yaitu menjadi buruh tani.
Untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan sekolah enam orang anaknya, sesekali Pak Dul Said mencoba berjuang dengan menjalankan sisa bisnisnya sambil menjadi buruh tani. Tetapi sisa usahanyapun semakin hari semakin merugi sehingga menambah terjebak dalam lingkaran hutang piutang.
Anak pertamanya gagal menyelesaikan  sekolah menengah pertama dan pendidikan pesantrennya. Bahkan anak kedua sampai anak keenam tidak satupun yang bisa melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah pertama karena kebangkrutan usaha orang tuanya itu. Akhirnya anak-anaknya satu persatu merantau untuk mencari pekerjaan.
Suatu ketika Pak Dul Said didatangi debt kolektor yang menagih hutangnya. Sama seperti dengan namanya, debt kolektor memaksa menagih Pak Dul Said dengan cara tidak bersahabat dan tidak ramah.  Akan tetapi Pak Dul sudah tidak ada lagi uang yang tersisa apalagi barang yang bisa dipakai untuk membayar seluruh hutangnya. Akhirnya 3 ekor kambing sisa hartanya terpaksa juga dibawa debt kolektor.
Berapa hutang Pak Dul Said sebenarnya ? dia berkisah bahwa pada awalnya dia hanya berhutang Rp. 2.5 juta akan tetapi akibat bunga yang tinggi dan denda yang tidak terbayarkan maka hutangnya mencapai Rp.35.juta  dalam hitungan waktu yang cukup lama.
"Dari mana saya harus membayar hutang sebanyak itu? kata Pak Dul Said sambil sesekali mengelus keningnya yang mulai keriput. Tampaknya dia merasa berat mengingat kejadian yang membuatnya menjadi menderita, malu dan terhina akibat hutang yang melilit hidupnya itu.
Tetapi kehendk Alloh SWT sangat luar biasa. Barangkali Alloh SWT menginginkan saya untuk menikmati hidup di masa tua," katanya sambil menghela nafas panjang.
"Suatu ketika anak saya yang nomor lima yang sudah lama di perantauan tiba-tiba pulang dan mengetahui ada surat tagihan dan lengkap dengan angka yang harus dibayar yaitu Rp. 35 juta diatas pintu kamar saya,"
"Begitu anak saya membacanya, ia langsung menangis. Sebab, ia baru tahu bahwa tanggungan pokok yang semula hanya Rp 2,5 juta ternyata sudah beranak pinak dan harus dibayar dengan jumlah yang sangat tinggi. Ketika melihat surat itu, saya seakan tak percaya," kata Pak Dul.
Keesokan harinya, anaknya mengajak kakaknya untuk menemui direktur bank tersebut untuk bernegosiasi. "Dengan bekal uang sejumlah Rp.2, 5 juta, ia melakukan negosiasi agar hutang ayahnya segera dinyatakan lunas, Sebab pihak keluarga dan anak-anaknya hanya mempu membayar tanggungan pokoknya saja," katanya.
"Kami datang untuk meminta kebijaksanaan dari bapak. Ayah saya tidak mungkin mampu membayar hutang sebanyak itu. Kami hanya bisa membayar hutang pokoknya saja 2,5 juta, jika bapak bersedia silahkan diterima,"begitu negosiasi yang dilakukan anak Pak Dul..
Jawaban pihak bank ternyata tidak memuasakan karena tetap memperlakukan Pak Dul sebagai nasabah aktif bukan nasabah pailit. Jawaban tersebut diangapnya sebagai jawaban yang tidak kooperatif "Kalau Bapak tidak mau, kami tidak akan datang lagi kesini. Dan kami tidak akan lagi berurusan dengan bank ini sekalipun bapak membawa debt kolektor ataupun polisi, "katanya sambil menahan emosi.
Beberapa bula kemudian pihak bank memberi tahu dan menyerahkan surat tagihan yang jumlahnya semakin membengkak, tapi semua anggota keluarga Pak Dul Said sepakat untuk tidak lagi membicarakan tentang hutang tersebut.
Dua tahun lamanya tidk ada penyelesaian, tetapi hidayah Alloh SWT akhirnya datang. Suatu ketika Pak Dul Said mendapati tetangganya yaitu Pak Zainal yang sakit berat karena komplikasi jantung, ginjal dan liver. Komplikasi penyakit yang diderita tetangganya itu membuat hatinya tersentuh. Sekalipun Pak Dul Said tidak memiliki uang yang cukup tetapi keinginannya untuk menolong tetangganya berobat ke dokter sangatlah kuat.
Setiap hari Pak Dul mengunjungi tetangganya yang sakit iru bahkan ia selalu mengantarkanya berobat ke Puskesmas terdekat.
Satu tahun telah berlalu, Pak Dul senantiasa mendampingi Pak Zainal yang kondisinya kesehatannya semakin hari semakin buruk. Terakhir, Pak Dul harus memeriksakan tetangganya ke rumah sakit dengan biaya yang sangat besar. Dengan keberanian dan ketulusan untuk menolong maka Pak Dul Said membawa Pak Zainal berobat ke rumah sakit dengan biaya yang dikumpulkan dari hasil kerja kerjanya sebagai buruh tani.
Hari-hari berlalu Pak Dul tidak lagi mengingat berapa penghasilanya, berapa yang harus disisihkan untuk hutang, dia hanya asyik merawat Pak Zainal yang sakit. 
Ketulusan Pak Dul Said rupanya membuahkan hasil, suatu saat ada petugas bank datang ke rumahnya dengan menyerahkan surat keterangan penetapan senagai nasabah pailit dengan total tanggungan hutang sebesar 4,5 juta rupiah.
Kebahagiaan dan kesedihan bercampur aduk alam hatinya. Seakan ada energi baru yang yang mengembalikan harapannya. Keinginan dan harapan untuk membayar semua hutangnya pulih kembali.
Pekerjaan sebagai buruh tani dengan tenaga yang pas-pasan membuatnya tidak patah arang untuk membayar seluruh hutannya.
Pak Dul dapat mengangsur hutangnya sebesar Rp. 50.ribu setiap bulannya, sehingga seluruh hutangnya dapat terlunasi. "Saya merasa seperti terlahir kembali dari kegelapan hidup. Saya telah menanggung beban yang cukup berat selama kurang lebih 50 tahun," kata Pak Dul mengakhiri cerita nya di sore itu.
Rupanya keihlasan dan ketulusan merawat orang lain secara tidak sadar membawa Pak Dul Said kepada sedekah tenaga, pikiran sekaligus materiil. Sedekah yang luar biasa yang sebetulnya tidak disadari sendiri oleh Pak Dul Said. Beban berat hampir 50 tahun yang akhirnya terbayarkan oleh sedekah....Subhanalloh...



Read more

Sedekah yang Dibalas Di Tengah Malam

Braaaaaak..Grand Livina yang tengah meluncur deras di jalan tol dari arah Bandung menju Jakarta itu tiba-tiba keras menghajar pembatas jalan. Seluruh penumpangnya yang terdiri dari empat pasang suami istri, sopir dan seorang bocah itu porak poranda di dalam mobil. Kecelakaan di tengah malam di jalan Tol Cikampek km 56-57 itu membuat mobil remuk redam.
Alhamdulillah, bantuan segera datang. Para korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. 
Anehnya, meski mengalami luka cukup serius, seluruh penumpangnya tidak ada yang meninggal dunia. Padahal jika memperhitungkan kerusakan mobil, paling tidak anaknya diperkirakan tidak tertolong.
H.Bambang Dwi Cahyo dan Istrinya Hj.Nuraeni pemilik mobil itu mengalami luka yang cukup parah. Bahkan H.Bambang sempat mengalami amnesia selama beberapa hari. Sedangkan sang istri patah tulang leher di ruas ke enam serta tangannya cedera akibat tertindih bangkai mobil.
Melihat kondisi kedua pasien itu, para Dokter yang menanganinya  memperkirakan tiga kemungkinan dampak yang sangat mengerikan; meninggal dunia, lumpuh atau paling ringan akan kesulitan mengalami buang air seni selamanya.
Dari kondisinya yang sangat parah itu akhirnya H.Bambang dan istrinya dirujuk ke RS Mitra Kelapa Gading dengan alasan fasiltas lebih lengkap.
"Ibu harus menjalani perawatan minimal 6 bulan," ucap Dokter ahi badah RS Mitra kepada Hj. Nuraeni itu. 
Lemaslah Ibu dua orang putri itu mendengarnya. "Bayangin aja, setengah tahun di rumah sakit" air mata tak terasa menetes apabila mengingat kata-kata 6 bulan itu.
Manusia dapat memperkirakan, tapi semua keputusan ada di tangan Allloh SWT.  Ternyata kondisi suami istri tersebut sangat cepat sekali pulih. Bahkan Hj. Nuraeni hanya perlu dirawat selam 2 bulan saja di rumah sakit. Tentu para Dokter dan ahli medis Rumah sakit terheran-heran walaupun juga turut gembira.
"Semua itu mustahil tanpa pertolongan Alloh SWT, kata H.Bambang menambahkan. Sebuah jawaban yang sangat singkat dan syarat makna yang mendengarnya.
Karyawan PLN Gambir ini lantas mengungkapkan asal muasal nashrullah yang dimaksud.
"Pagi sebelum kami kembali ke Jakarta hari itu, kami sempat sarapan bersama di penginapan di kota Bandung, Tiba-tiba seorang ibu dan anaknya menghampiri kami," Kata H.Bambang membuka cerita.
Rupanya ibu itu minta uang enam ribu rupiah,"Untuk tambah ongkos berobat anak," H.Bambang menirukan perkataan si ibu.
Oleh salah seorang anggota jamaah, ibu dan anak itu diberi uang 20 ribu.Bukan main senangnya si ibu menerima pemberian yang melebihi permintaanya itu."Terima kasih Pak, Terima kasih, Insya Alloh jam dua belas malam nanti akan dikembalikan," kata ibu itu dengan girangnya.
"Ya, ya Bu, semoga anak ibu lekas sembuh ya?" jawab H.Bambang dan kawan-kawan. Walaupun perkataan ibu itu cukup aneh, namun rombongan tidak memikirkannya lebih jauh. Mereka ikhlas memberinya untuk membantu meringankan beban si ibu itu.
Malam harinya, pukul 22.00 WIB, rombongan H.Bambang bertolak dari Bandung menuju Jakarta. Perjalanan dengan kecepatan cukup tinggi sepanjang jalan tol lancar-lancar saja, sampai terjadilah peristwa naas mengerikan itu tepat pada pukul 00.00 tengah malam.
Bersyukur telah diselamatkan nyawanya, H Bambang dan istri justru mulai terbuka akan artinya memberi, uang 20 ribu yang pada awalnya tidak mempunyai arti apa-apa akan tetapi ucapan si Ibu yang mengatakan akan dibalas pada tengah malam nanti telah membuka mata hatinya.
Kini, walau masih harus menjalani terapi rutin dua mingguan, kondisi pasangan suami istri itu mendekati normal kembali. Dan jangankan mereka sendiri, para Dokterpun tidak henti-hentinya merasa takjub dengan keajaiban kesehatan pasien ini. Logika berpikir apabila itu peminta-minta beneran tidak mungkin meramal-ramal orang lain apalagi mau mengembalikan uangnya,,kenal saja tidak atau mengetahui alamatnya ...Subahanalloh...........
Read more

Penjual Sate

Mengapa seorang selalu merasa kurang dengan penghasilannya?. Mungkin karena dia kurang bersedekah,,,Kata Kiai Makduri malam itu sambil melirik sekelilingnya.  Wajah-wajah tua dengan tatapan penuh semamngat tengah duduk mengelilinya. Mereka adalah jamaah pengajian malam senin di salah satu Surau.
Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat.
Suatu ketika datanglah seorang penjual sate ke rumah Kiai Madkuri dan mengeluh karena penghasilannya terlalu kecil dan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya.  Dia bilang jika pendapatannya hanya Rp.800 ribu dari hasil berjualan sate keliling pasar Margasari setiap bulan. Padahal, anaknya lima, sehingga dia ingin penghasilannya lebih dari itu agar supaya sekolah anak-anaknya tidak terlantar.
Dengan bijak Kyai Madkuri itu mengajak tukang sate itu mensykuri terlebih dahulu rejeki yang telah didapatkannya selama ini. Kemudian dia menyarankan dengan adanya cuplikan surat di dalam Al Qur'an mengenai anjuran bagi yang kaya untuk membagi kekayaanya kepada yang miskin."Tukang sate mana ada dalam ayat Al Qur'an Kyai? Tukang sate hanya bertugas membagi bagikan dagangannya. Jika itu dilakukan bisa rugi Kyai". Kata tukang sate itu sambil mendebat peneturan Kyai Madkuri dengan gugup. "Kapan ayat-ayat itu dibaca dan berapa kali Kyai? Katanya lagi. "Nah, inilah kelemahan kebanyakan orang," Ujar Kyai Madkuri. Kemudian Kyai melanjutkan "Al Qur'an hanya untuk dibaca, direnungkan artinya dan dicari keajaibannya."
Agak kesal dengan gugatan tukang sate itu, Kyai Madkuri menyuruhnya segera berdiri. Kemudian dia bertanya,"Maaf, boleh saya tanya tentang pertanyaan yang bersifat pribadi?"  Tukamg sate itupun mengangguk. "Anda tidak marah?"  Tanya Kyai lagi. dan tukang sate itu kembali mengangguk. "Anda bawa uang berapa di dompet?" Desak Kyai. Tukang sate itu mngeluarkan uangnya dari dompet yang berjumlah Rp.100 ribu. Kyai langsung mengambilnya.
"Nah, uang ini akan saya sedekahkan. Apakah Anda ikhlas ? " Tukang sate itu menggaruk-garuk kepalanya, namun setelah itu dia kemudian mengangguk dengan terpaksa. "Dalam tujuh hari kedepan, lupakan uangmu dan teruslah berjualan sate, Insya Alloh akan ada balasan dari Alloh SWT" Akan tetapi tukang sate itu bertanya lagi,"Kalau nggak, bagaimana Kyai? " "Uangnya saya kembalikan !!" jawab Kyai Madkuri meyakinkan.
Sejak saat itu, tukan sate mulai menghitung hari. Hari pertama tidak ada apa-apa, demikian pula pada hari kedua bahkan pada hari ketiga uangnya hilang 25 ribu rupiah dari hasil penjualannya. Rupanya ketika ditanyai Kyai Madkuri tempo hari sebenarnya dia membawa uang 125 ribu rupiah, akan tetapi yang 25 ribu terselip. Pada hari keempat tukang sate itu mendapat pesanan untuk acara pesantren kilat di Mushola Al Istiqomah.
Selama empat hari, tukang sate itu memperoleh order untuk menyediakan pesanan untuk para santri yang sedang liburan sekolah.
Begitu acara pesantren kilat selesai, panitia acara memberikan sebuah amplop yang berisi uang ongkos pembayaran pesanan sate kidi. " Ini kami bayar sekaligus sebagai hadiah syukuran panitia karena acara ini sukses berkat kerja sama dengan Anda," Begitu kata panitia. Subhanalloh, ketika amplop itu dibuka, jumlahnya 1.5 juta rupiah.
Tukang sate itu pulang terburu-buru karena senang bukan main. Kemudian dia langsung mendatangi Kyai Madkuri dan menceritakan keajaiban sedekah yang telah dialaminya, meskipun awalnya dengan berat hati. Tetapi si tukang sate rupanya tidak mudah puas dengan penghasilan 1,5 juta yang telah diperolehnya. Dia justru ingin agar seluruh hutangnya juga bisa dibayarkan sehingga dia bertanya sekali lagi kepada Kyai Madkuri.
"Kyai, saya sudah memperoleh penghasilan yang diharapkan, tetapi saya ingin agar seluruh hutang saya terbayar lunas. Lalu, cara dan bacaan apalagi yang bisa saya gunakan agar saya bisa terbebas dari hutang." katanya dengan penuh semangat. Kyai Madkuri dengan spontan mengatakan, "Perbanyaklah meminta ampun kepada Alloh SWT dan mana uang 1,5 juta yang tadi kamu peroleh.?"
Dengan berat hati, tukang sate itu menyerahkan yangnya kepada Kyai Madkuri, "Untuk apa Kyai?" tanya tukang sate itu agak khawatir. "Uangmu disedekahkan untuk membeli keramik guna menyelesaikan pembangunan Surau itu." kata Kya Madkuri sambil menunjukan Surau yang berada dekat dengan rumahnya.
"Tapi, bagaimana istri dan anak-anak saya Kyai?" Tukang sate itu khawatir jika uangnya dipakai semua untuk sedekah Surau, bagaimana dia akan bisa membayar hutangnya.
"Berapa hutangmu ?" tanya Kyai dengan penuh kewibawaan."3 juta Kyai." jawab tukang sate.
"Besok kamu tetap berjualan sate dengan modal yang ada. Insya Alloh kamu bisa membayar seluruh hutangmu satu minggu kedepan," kata Kyai Madkuri.
Tukang sate itupun akhirnya menjalani kehidupan jualannya seperti biasa meskipun dengan modal seadanya.
Suatu ketika saat adzan Maghrib berkumandang, si tukang sate sedang dalam perjalanan menawarkan dagangannya. Dia kemudian memarkir gerobagnya di depan Masjid dan langsung mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib berjamaah.
Sungguh diluar pikiran, dugaan dan harapan si tukang sate. Begitu selesai sholat Maghrib, dia kemudian membunyikan piringnya sebagai bunyi-bunyian ciri khas jualannya. Silih berganti orang datang membeli sekedar seribu atau dua ribu. Tetapi saat malam  mulai larut, ada pembeli yang ternyata seorang pemilik usaha katering makanan yang setiap hari harus melayani seribu pesanan katering di tiga sekolah swasta unggulan yang tersebar di kota Bahari.
"Satu hari bisa membuat sate berapa tusuk pak?" tanya pengusaha itu di sela-sela menunggu pesanannya dibakar. "Ya, paling bisa bikin sekitar 250 tusuk. Memang kenapa Pak? " Tanya si tukang sate penasaran.
"Nggak apa-apa, saya hanya ingin tahu saja." Malam itu kepulan asap pembakatan sate membuat suasana menjadi lebih enak, apalagi pada saat lapar seperti pengusaha katering itu. "Sudah selesai, ini sate dan lontongnya Pak," kata si tukang sate.
Pertanyaan pengusaha katering itu hanyalah diskusi biasa dan tidak berlanjut, dan bagi si tukang sate, hal seperti itu adalah kejadian biasa yang ditanyakan oleh pembeli. 
Tapi bagi pengusaha katering, dia bisa membaca peluang bisnis secara cerdas. Jawaban yang disampaikan oleh si tukang sate itu justru bisa menjadi informasi yang sangat berharga sekaligus sebagai uji coba produk sate yang kemungkinan bisa dipakai untuk bekerja sama.
Tiga bulan kemudian, pengusaha katering itu mendatangi rumah si tukang sate itu. Dan dia membicarakan tentang permintaanya untuk dibuatkan sate lontong sekitar 5000 tusuk setiap minggu yang terbagi dalam dua shift yaitu hari Selasa siang dan Jum'at siang masing-masing 2500 tusuk.
"Betul Pak, Anda mau menjadi langganan kami setiap minggu?" tanya si tukang sate. "Benar, saya merasakan sate lontong buatan Bapak terasa enak. Dan kami perlu bantuan saudara untuk memenuhi kebutuhan menu katering kami mulai minggu depan, tapi ingat Bapak jangan terlambat dan harus tetap menjaga kualitas" kata pengusaha katering itu meyakinkan. "Baik Pak, kalau bergitu kami akan mempersiapkannya dengan baik." kata si tukang sate.
Subhanalloh.wal hamdulillah....Tukang sate itu sekarang mendapat order yang sangat besar. Penghasilannya yang dulu hanya 800 ribu naik menjadi 1.5 juta sehingga dia ingin meningkatkan lagi penghasilannya agar bisa membayar hutang.
Dari orderan pengusaha katering itu, penghasilan si tukang sate sudah meningkat 3 kali lipat dari biasanya...Subhanalloh....
Read more

support